Postinganku Hari Ini
NSPIRASI PAGI :
Ketika kita memperbaiki hubungan kita dengan Allah, Dia memperbaiki segala urusan kita.
"Perbaiki sholatmu maka Allah akan perbaiki nasibmu" (Imam Syafii)
TETAP SEMANGAT
----------
HJS
[17/10 09.57] endarkumari: 🌥️ *Jum'at*
*📅 25 Rabi'ul Akhir 1447 Hijriah*
*📅 17 Oktober 2025 Masehi*
السَّلاَمُ عَلَيْكُمْ وَرَحْمَةُ اللهِ وَبَرَكَاتُهُ
Alhamdulillāh..
Segala puji bagi Allāh ﷻ, shalawat dan salam semoga senantiasa tercurahkan kepada Rasūlullāh ﷺ.
🔓 Kita buka grup ini dengan membaca بِسمِ الله dan berdoa:
اَللَّهُمَّ إِنِّيْ أَسْأَلُكَ عِلْمًا نَافِعًا، وَرِزْقًا طَيِّبًا، وَعَمَلاً مُتَقَبَّلاً
"Ya Allah, sesungguhnya aku memohon kepadaMu ilmu yang bermanfaat, rizki yang halal dan amal yang diterima."
(HR. Ibnu Majah)
🇫🇦🇪🇩🇦🇭 🇵🇦🇬🇮
*PINTU SURGA PALING TENGAH*
Dari Abu Darda Radhiyallahu ‘anhu, Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,
الْوَالِدُ أَوْسَطُ أَبْوَابِ الْجَنَّةِ فَإِنْ شِئْتَ فَأَضِعْ ذَلِكَ الْبَابَ أَوِ احْفَظْهُ
*Orang tua adalah pintu surga paling tengah. Kalian bisa sia-siakan pintu itu, atau kalian bisa menjaganya.(HR. Ahmad 28276, Turmudzi 2022, Ibn Majah 3794, dan dihasankan Syuaib al-Arnauth).*
*PENJELASAN HADITS*
Dalam Tuhfatul Ahwadzi, Syarh Sunan Turmudzi disebutkan keterangan al-Baidhawi,
Al-Qadhi Baidhawi mengatakan, *“Makna hadis, bahwa cara terbaik untuk masuk surga, dan sarana untuk mendapatkan derajat yang tinggi di surga adalah mentaati orang tua dan berusaha mendampinginya. Ada juga ulama yang mengatakan, ‘Di surga ada banyak pintu. Yang paling nnyaman dimasuki adalah yang paling tengah. Dan sebab untuk bisa masuk surga melalui pintu itu adalah menjaga hak orang tua.’(Tuhfatul Ahwadzi, 6/21*
*“Sungguh terhina, sungguh terhina, sungguh terhina.”*
Ada yang bertanya, _
*“Siapa, wahai Rasulullah?”*
Beliau bersabda,
*”(Sungguh hina) seorang yang mendapati kedua orang tuanya yang masih hidup atau salah satu dari keduanya telah tua, namun justru ia tidak masuk surga (karna tidak berbakti pada mereka).” (HR. Muslim)*
Sumber:
https://konsultasisyariah.com/24268-orang-tua-pintu-surga-paling-tengah.html
-----------------------
Demikianlah faedah yang ringkas ini semoga bermanfaat bagi kita semua.
🌈 Selamat beraktivitas
Semoga apa2 yg kita lakukan bisa bernilai ibadah di sisi Allah ﷻ
بَارَكَ اللهُ فِيْكُم
•┈◎❅❀❦ 🔘 ❦❀❅◎┈•
[17/10 09.57] endarkumari: 𝗛𝗶𝗸𝗺𝗮𝗵 𝗣𝗮𝗴𝗶
Siapa yang menuduh/menghina saudaranya dengan suatu dosa yang telah ia bertaubat kepada Allah darinya, maka ia tidak akan mati sebelum Allah mengujinya dengan dosa yang sama [Hasan Al-Bashri rahimahullah]
===========
مَنْ رَمَى أَخَاهُ بِذَنْبٍ، قَدْ تَابَ إِلَى اللَّهِ مِنْهُ، لَمْ يَمُتْ حَتَّى يَبْتَلِيَهِ اللَّهُ بِهِ (ربيع الأبرار ٩٨/٢)
[17/10 09.57] endarkumari: *:: TERUSLAH SALING MENASEHATI MESKIPUN KITA BANYAK KEKURANGAN ::*
🎙️ Al-Imam Ibnu Rajab Al-Hanbali Rahimahullah berkata:
"Seandainya tidak boleh memberi nasehat kecuali seseorang yang terjaga (ma'shum) dari kekurangan, niscaya tidak akan ada seorang pun yang menasihati orang lain selain Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam. kerana tidak ada yang ma'shum selain beliau.” - (Lathaiful Ma'arif, hlm. 19)
‘Umar bin ‘Abdul ‘Aziz pernah menuliskan surat;
“Aku beri nasihat seperti ini. Padahal aku sendiri telah melampaui batas terhadap diriku dan pernah berbuat salah. Seandainya seseorang tidak boleh menasihati saudaranya sampai dirinya bersih dari kesalahan, maka tentu semua akan merasa dirinya telah baik (karena tak ada yang menasihati, pen.). Jika disyaratkan harus bersih dari kesalahan, berarti hilanglah amar makruf nahi mungkar. Jadinya, yang haram dihalalkan. Sehingga berkuranglah orang yang memberi nasihat di muka bumi. Setan pun akhirnya senang jika tidak ada yang beramar makruf nahi mungkar sama sekali. Sebaliknya jika ada yang saling menasihati dalam kebaikan dan melarang dari kemungkaran, setan akan menyalahkannya. Setan menggodanya dengan berkata, kenapa engkau memberi nasihat pada orang lain, padahal dirimu sendiri belum baik.”
Demikian penjelasan menarik dari Ibnu Rajab dalam Lathaif Al-Ma’arif, hlm. 42-43.;
Penjelasan di atas bukan berarti kita boleh tetap terus dalam maksiat. Maksiat tetaplah ditinggalkan. Pemaparan Ibnu Rajab hanya ingin menekankan bahwa jangan sampai patah semangat dalam menasihati orang lain walau diri kita belum baik atau belum sempurna.
Yang penting kita mau terus memperbaiki diri.
[17/10 09.57] endarkumari: 🍃🍂🍃🍂🍃🍂🍃🍂🍃🍂
*Hidup itu Bertarung*
Hidup tak pernah lepas dari pertarungan. Bahkan semenjak masih kanak-kanak.
Berebut mainan, berebut makanan, berebut perhatian, menjadi dunia pertarungan masa kecil.
Jelang dewasa pertarungan lebih panas.
Bertarung mendapatkan sekolah favorit.
Bertarung menjadi sang juara di sekolah.
Bertarung dalam event-event lomba.
Juga bertarung merebut cinta.
Setelah masa itu, pertarungan lebih bervariasi.
Bertarung mendapatkan pekerjaan yang mapan , pasangan hidup yang ideal, jabatan di kantor , kemewahan, sampai bertarung demi gengsi dan pujian.
Begitulah ritme kehidupan manusia pada umumnya.
Tak apa. Memang begitu. Hidup menjadi lebih berwarna saat kita memiliki keinginan dan berjuang untuk mendapatkannya.
Namun yang harus kita ingat, semua itu pada akhirnya akan selesai pada satu titik dimana kita tidak lagi bertarung, tetapi menikmati seluruh hasil pertarungan.
Dan saat itu tak ada yang bisa kita lakukan selain rasa cemas karena diperlihatkan bagaimana cara kita bertarung untuk menjadi pemenang.
Maka bertarunglah dengan elegan.
Mengikuti aturan main yang sudah ditetapkan.
Tidak menciptakan aturan sendiri yang merugikan lawan.
Jadilah pemenang yang bermartabat agar saat diputar ulang cctv mampu tersenyum penuh kegembiraan.
*"Dan bumi (Padang Mahsyar) menjadi terang-benderang dengan cahaya (keadilan) Tuhannya; dan buku-buku (perhitungan perbuatan mereka) diberikan (kepada masing-masing), nabi-nabi dan saksi-saksi pun dihadirkan lalu diberikan keputusan di antara mereka secara adil, sedang mereka tidak dirugikan."*
(QS. Az-Zumar 39: Ayat 69)
🍃🍂🍃🍂🍃🍂🍃🍂🍃🍂
Komentar
Posting Komentar