Inspirasi Pagi :
Berdoalah untuk sebanyak-banyaknya orang dengan sebaik-baiknya doa, maka doa itu akan kembali kepada kita.
Doa adalah obat bagi jiwa yang hampa, pikiran yang bimbang, dan hati yang terluka.
"Berdoalah pasti Aku kabulkan" (QS. Albaqoroh 186)
Tetap Semangat
----------
HJS
[3/11 03.45] endarkumari: *Embun pagi..🌹*
*Sahabat..😘*
*PELAJARAN HIDUP..*
Ketika kemarahan membuat kita paham akan penyesalan, maka kita akan selalu belajar berusaha untuk bersabar.
Ketika kebohongan membuat kita paham akan kekecewaan, maka kita akan selalu belajar untuk berusaha berkata jujur.
Ketika ketiadaan membuat kita merasakan kehilangan dan kekurangan, maka kita akan selalu belajar berusaha bersyukur atas apa yang kita miliki.
Ketika penghianatan membuat kita paham rasanya kesakitan, maka kita akan selalu belajar berusaha memberikan ketulusan.
Ketika ditimpakan suatu penyakit, maka kita akan selalu belajar berusaha mensyukuri betapa pentingnya nikmat sehat.
Ketika keburukan menyadarkan kita jika itu merugikan, maka kita akan selalu belajar berusaha untuk berbuat kebaikan.
Ketika aib kita yang nampak membuat kita malu, maka kita akan selalu belajar berusaha menutupi aib orang lain.
Selain meratapi, menyesali dan menyalahkan atas masalah yang menimpa diri kita, alangkah baiknya kita ambil sebuah pelajaran.
Meskipun pelajaran yang sangat-sangat simpel namun akan membawa perubahan yang sangat besar.
Semoga bermanfaat, loving you all as always.. ❤️💖💝.
Selamat pagi selamat hari Minggu, tetaplah selalu baik dan jangan lupa bahagia, aamiin..🙏😍.
[3/11 03.47] endarkumari: *🌟 Secercah 🌟*
*_"Sungguh indah permisalan pasangan suami istri itu bagaikan pakaian. Saling menutupi kekurangan dan memberikan keamanan dan kenyamanan."_*
🍃 Saudaraku, jagalah dirimu dan pasanganmu 🍃
https://t.me/FatkurRochman
[3/11 05.21] endarkumari: 𝗛𝗶𝗸𝗺𝗮𝗵 𝗣𝗮𝗴𝗶
Demi Allah, seandainya engkau benar-benar putus asa dari makhluk hingga tidak mengharapkan apapun dari mereka, niscaya Allah akan memberimu semua yang engkau inginkan [Fudhoil bin Iyadh rahimahullah]
===========
وَاللّهِ لَوْ يَئِسْتَ مِنَ الخَلْقِ حَتَّى لَا تُرِيْدُ مِنْهُمْ شَيْئًا، لَأَعْطَاكَ مَوْلَاكَ كُلّ مَا تُرِيْدُ (موارد الظمآن ١/٥٦)
[3/11 07.38] endarkumari: *السَّلاَمُ عَلَيْكُمْ وَرَحْمَةُ اللهِ وَبَرَكَاتُهُ...!*
*MENJAGA KEBAHAGIAAN...!*
*TERSENYUMLAH, kamu tidak sendiri...!*
*Semua orang punya cerita tentang rumitnya perjalanan hidup...!*
*Namun, Nyatanya hingga kini segalanya dapat terlewati...!*
*Jika ujianmu lebih berat dari mereka, Artinya kamu lebih kuat darinya...!*
*Jalani, Nikmati dan syukuri, semua sesuai aturan dari-Nya...!*
*Dalam hidup ada yang harus diingat, ada pula yang harus dilupakan...!*
*ada yang harus diutamakan, dan ada yang lebih baik di abaikan...!*
*Bijaklah menjaga kebahagiaan dan jangan terlalu dikhuatirkan...!*
*dunia ini bersifat sementara, suka, duka, tawa dan terluka tidak akan selamanya...!*
*Alfaqiir:*
*𝙃𝘽 💖
[3/11 07.39] endarkumari: Masa fitnah akhir jaman
Nabi ﷺ bersabda:
> «سَتَكُونُ فِتَنٌ، القَاعِدُ فِيهَا خَيْرٌ مِنَ القَائِمِ، وَالقَائِمُ فِيهَا خَيْرٌ مِنَ المَاشِي، وَالمَاشِي فِيهَا خَيْرٌ مِنَ السَّاعِي»
“Akan datang kepada manusia masa-masa penuh fitnah; orang yang duduk lebih baik dari yang berdiri, yang berdiri lebih baik dari yang berjalan, dan yang berjalan lebih baik dari yang berlari.”
(HR. Bukhari dan Muslim)
Rasululah ﷺ Mengabarkan Zaman Gelap
Perhatikan, kata beliau “akan datang masa-masa penuh fitnah”.
Artinya, Rasulullah ﷺ sudah melihat jauh ke depan. Fitnah yang beliau maksud bukan hanya pertikaian fisik, tapi juga fitnah pemikiran, fitnah media, fitnah syahwat, fitnah informasi.
Zaman ini — saat informasi begitu cepat, semua orang bicara, semua orang berkomentar, semua merasa benar — inilah masa fitnah itu.
Apa Maksud ‘Duduk Lebih Baik dari Berdiri’?
Imam An-Nawawi rahimahullah menjelaskan dalam Syarh Shahih Muslim,
maksudnya semakin sedikit seseorang terlibat dalam fitnah, semakin selamat imannya.
Duduk itu tanda menahan diri.
Berdiri berarti siap bergerak.
Berjalan berarti sudah ikut terlibat.
Dan berlari — na‘udzubillah — berarti terburu-buru terjun ke dalam fitnah.
Artinya, Rasulullah ﷺ sedang mengajarkan prinsip kehati-hatian:
Ketika fitnah datang, jangan terburu-buru menilai, jangan tergesa membela, jangan ikut menyebar.
#Fitnah Itu Menipu
#Fitnah itu seperti api.
Kata ulama, fitnah itu tidak mengenal siapa yang bersalah dan siapa yang benar — semuanya bisa terbakar jika mendekat.
Makanya Nabi ﷺ menambahkan dalam riwayat lain:
> “Barangsiapa mencari-carinya (fitnah), maka ia akan terjerumus di dalamnya.”
Lihat…
Bukan hanya yang ikut terlibat, bahkan yang penasaran pun bisa terbakar.
Sekarang coba lihat realita — fitnah digital, fitnah politik, fitnah sosial.
Ada yang awalnya cuma ingin tahu, scroll, ikut komentar, lama-lama terseret emosi, akhirnya jadi penyebar kebencian.
Padahal awalnya hanya “pengen tahu”.
Sikap seperti apa yang harus dilakukan Seorang Mukmin di Masa Fitnah?
Rasulullah ﷺ memberikan solusi — bukan hanya larangan.
Dalam hadis lain beliau bersabda:
> “Bersabarlah, beribadahlah di rumahmu, tahan lisanmu, sibukkan diri dengan Al-Qur’an dan dzikir.”
Ulama seperti Ibn Hajar menafsirkan, di masa fitnah, bukan berarti kita diam total tanpa amal,
tapi diam dari keburukan dan sibuk dengan kebaikan.
Kalau dulu orang berlari ke medan perang, sekarang orang berlari ke “medan komentar.”
Kalau dulu orang berdebat di pasar, sekarang di timeline media sosial.
Maka kata Nabi ﷺ, yang duduk lebih baik dari yang berdiri.
Artinya: lebih baik menahan diri, lebih baik introspeksi, lebih baik menambah ibadah.
Teman-teman sekalian, jangan kita jadi bagian dari kegelapan fitnah.
Jadilah orang yang menyalakan cahaya — bukan menambah bara.
Rasulullah ﷺ telah memberi sinyal, dan sekarang kita sedang hidup di masa itu.
Jadi ketika melihat fitnah, katakan dalam hati:
> “Aku cukup dengan Allah, aku sibuk memperbaiki diriku.”
Karena, seperti kata sebagian ulama salaf:
> “Di masa fitnah, amalan paling mulia adalah menjaga lisan dan memperbanyak doa.”
Ada sebuah kisah di masa fitnah awal di kaum muslimin, yaitu di masa kekhalifahan ‘Ali bin Abi Thalib ra., umat Islam dilanda masa penuh fitnah.
Bayangkan… sahabat melawan sahabat, sesama orang beriman saling menghunus pedang.
Bukan karena benci agama, tapi karena fitnah telah membutakan kebenaran.
Di Kufah, ada seorang lelaki saleh — tidak terkenal, tidak punya jabatan, tapi dikenal karena wara‘ dan zikirnya.
Namanya disebut sebagian riwayat sebagai Sa‘id bin Amir, murid dari Abdullah bin Mas‘ud ra.
Ketika orang-orang sibuk memilih kubu:
“Engkau ikut Ali atau Mu‘awiyah?”
Sa‘id hanya tersenyum dan berkata:
> “Aku bersama siapa pun yang bersama Allah.”
Orang mencibir, “Pengecut! Tidak mau membela kebenaran!”
Tapi Sa‘id menunduk, menangis dan berkata:
> “Aku takut, di tengah fitnah, mataku tertutup oleh nafsu.
Maka aku pilih menjaga diriku — agar tidak membunuh saudara seimanku.”
Ia pun beruzlah. Ia menutup pintu rumahnya, memperbanyak shalat, zikir, dan doa.
Ketika darah tumpah di jalan-jalan Kufah, rumahnya justru menjadi tempat orang menenangkan diri dan kembali ingat Allah.
Ulama berkata:
> “Orang yang menahan diri di masa fitnah bukan pengecut — ia penjaga iman.”
Karena Nabi ﷺ tidak memuji yang berani berbicara di tengah fitnah,
tapi memuji yang duduk — diam — sabar — dan menjaga diri.
Kata Rasulullah ﷺ:
> “Yang duduk lebih baik dari yang berdiri…”
Artinya, menjaga diri dari komentar, dari emosi, dari ikut-ikutan yang belum jelas.
Sa‘id bin Amir selamat bukan karena pandai berdebat,
tapi karena ia memilih diam di saat semua orang berteriak.
Semoga Allah lindungi kita dari fitnah yang tampak dan yang tersembunyi, dan menjadikan kita hamba-hamba yang sabar, tenang, dan bijak di masa ujian.
اللهم سلِّم سلِّم، يا رب العالمين.
“Ya Allah, selamatkanlah kami selamatkanlah (kami), wahai Tuhan semesta alam.”
#story #iman #islam #menjaga #fitnah #dosa #perbaiki #diri
#savegaza
#freepalestina
Komentar
Posting Komentar