Postinganku Hari Ini
Inspirasi Pagi :
Hidup adalah ;
Waktu yang dipinjamkan.
Harta adalah ;
Amanah yang dipercayakan.
Usia adalah ;
Kesempatan yang diberikan.
Semua itu akan dimintai pertanggung jawabkan.
"Sesungguhnya pendengaran, penglihatan dan hati, semuanya itu akan diminta pertanggungan jawabnya”. (QS. Al-Isra` : 36).
Tetap Semangat.
-----------
HJS.
[7/1 08.52] endarkumari: _*"Dadi Wong Ojo Gumunan, Ojo Getunan, Ojo Kagetan, Ojo Aleman"*_
@yunusaziz, 13 Desember 2025
***
> Pada tiap peristiwa yang Allah hadirkan di sekitar kita itu, pasti mengandung hikmah yang tersirat bagi siapapun yang jujur dan menyadarinya. Pada kematian seseorang, kita diajarkan bahwa kehidupan di dunia ini sementara. Pada tiap kehilangan, kita diajarkan bahwa segalanya hanyalah titipan, dan lain sebagainya. Apapun itu pasti dihadirkan Allah bukan tanpa maksud di baliknya.
Dalam urusan amal, kita harus memiliki kesadaran bahwa tidak ada garansi dari kebaikan-kebaikan yang telah kita pelajari, upayakan, dan coba istiqomahi selama ini, menjadi gambaran tetap bagaimana di pertengahan dan akhir usia nanti. Itulah kenapa kita senantiasa diajarkan untuk minta hidayah sama Allah, agar apa yang telah kita yakini hari ini, Allah tetap teguhkan hati ini, yang mendorong seluruh anggota tubuh untuk berbuat kebaikan, bisa langgeng hingga akhir nanti.
Sebagai seorang beriman, ada satu filosofi Jawa yang berbunyi _"Ojo Gumunan, Ojo Getunan, Ojo Kagetan, Ojo Aleman"_ kurang lebih artinya “Jangan mudah terheran-heran, jangan mudah menyesal, jangan mudah terkejut, jangan manja.” Kenapa demikian? Karena sejarah sudah memberi contoh betapa banyak mereka yang di awal bertabur iman, akan tetapi meninggal dalam keadaan murtad. _Na'udzubillah._
Selama manusia hidup, pasti akan Allah hadirkan ujian yang beragam, kadang ringan kadang berat, kadang sebentar kadang lama, dan sunnatullah-nya memang begitu, tidakk bisa dihindari.
Alih-alih menghindarinya, yang bisa kita ikhtiarkan hanyalah dengan menguatkan iman kita, tancapkan betul kedalam hati. Sebab hanya dengan hal tersebutlah modal besar agar kita selamat dalam mengarungi kehidupan ini.
Jika hari ini kita sedih, takut dan menyesal atas ketidakistiqomahan kita hari ini, kesedihan itu hal yang wajar.
Cuman jangan sampai berlarut, barangkali Allah hadirkan ujian itu sebagai ujian yang akan menjaga diri kita. Memang berat. Namun dengan begitulah kadang, manusia sadar bahwa dirinya bukan siapa-siapa di hadapan Rabb-nya.
Semoga Allah menjaga iman yang tertancap kuat di dalam dada kita. Aamiin
#TelagaSurga
https://t.me/catatansubuh
[7/1 08.52] endarkumari: *🌌 Renungan Dhuha 🌌*
*Nikmat Dunia sebagai Jalan Menuju Akhirat*
Menikmati nikmat Allah adalah dengan menggunakannya dalam perkara yang halal. Hal-hal yang mubah boleh dikonsumsi selama disertai rasa syukur kepada Allah.
Allah Ta’ala berfirman:
…وَلَا تَنسَ نَصِيبَكَ مِنَ الدُّنْيَا…
“Janganlah engkau lupa akan bagianmu dari dunia.” (QS. Al-Qashash [28]: 77)
Kita butuh dunia karena hidup di dunia, tetapi dunia hanyalah jembatan menuju akhirat. Jangan sampai salah menanamkan cita-cita, seolah-olah dunia adalah akhir kehidupan. Dunia hanyalah wasilah untuk meraih karunia yang lebih besar di akhirat.
Allah Ta’ala juga berfirman:
قُلْ مَنْ حَرَّمَ زِينَةَ اللَّهِ الَّتِي أَخْرَجَ لِعِبَادِهِ وَالطَّيِّبَاتِ مِنَ الرِّزْقِ…
“Katakanlah, siapakah yang mengharamkan perhiasan dari Allah yang telah Dia keluarkan untuk hamba-hamba-Nya dan rezeki yang baik-baik?” (QS. Al-A’raf [7]: 32)
Dari ayat ini dipahami bahwa tidak boleh mengharamkan yang halal atau menghalalkan yang haram. Jika sesuatu halal, maka katakan halal. Jika haram, maka katakan haram.
Yang ketiga adalah berbuat baik kepada hamba-hamba Allah dengan nikmat yang Allah berikan. Allah Ta’ala berfirman:
…وَأَحْسِنْ كَمَا أَحْسَنَ اللَّهُ إِلَيْكَ…
“Berbuat baiklah sebagaimana Allah telah berbuat baik kepadamu.” (QS. Al-Qashash [28]: 77)
Allah juga berfirman:
هَلْ جَزَاءُ الْإِحْسَانِ إِلَّا الْإِحْسَانُ
“Tidak ada balasan bagi kebaikan selain kebaikan (pula).” (QS. Ar-Rahman [55]: 60)
Sebagaimana hukum kehidupan, siapa yang menanam padi akan memanen padi, dan siapa yang menanam jagung akan memanen jagung. Mustahil menanam pohon berduri lalu berharap panennya padi. Demikian pula, siapa yang menanam kebaikan akan memanen kebaikan, dan siapa yang menanam keburukan akan memanen keburukan.
Yang keempat, tidak boleh membuat kerusakan di muka bumi dengan nikmat yang Allah anugerahkan. Allah Ta’ala berfirman:
…وَلَا تَبْغِ الْفَسَادَ فِي الْأَرْضِ…
“Dan janganlah engkau berbuat kerusakan di muka bumi.” (QS. Al-Qashash [28]: 77)
Juga firman-Nya:
وَلَا تُفْسِدُوا فِي الْأَرْضِ بَعْدَ إِصْلَاحِهَا…
“Dan janganlah kalian berbuat kerusakan di muka bumi setelah diperbaiki.” (QS. Al-A’raf [7]: 56)
Di antara bentuk kerusakan di muka bumi adalah dengan berbuat maksiat. Maksiat itu merusak bumi. Kita dapat mengambil pelajaran dari Qarun. Ia membuat kerusakan di muka bumi dengan hartanya, maka Allah membinasakannya. Qarun lupa bahwa yang memberi harta adalah Allah.
Allah Ta’ala berfirman tentang harta Qarun:
…مَا إِنَّ مَفَاتِحَهُ لَتَنُوءُ بِالْعُصْبَةِ أُولِي الْقُوَّةِ…
“Kunci-kunci perbendaharaannya sungguh berat dipikul oleh sejumlah orang yang kuat.” (QS. Al-Qashash [28]: 76)
Ini menunjukkan betapa banyak hartanya. Gudang-gudangnya sangat banyak hingga kunci-kuncinya saja dipikul sekelompok orang kuat dan tetap terasa berat. Namun Qarun lupa diri. Ia berkata tentang hartanya:
…إِنَّمَا أُوتِيتُهُ عَلَىٰ عِلْمٍ عِنْدِي…
“Sesungguhnya aku hanya diberi harta itu karena ilmu yang ada padaku.” (QS. Al-Qashash [28]: 78)
Padahal yang memberi harta kepadanya adalah Allah, dan sebenarnya ia tidak memiliki apa-apa.*(A)*
[7/1 08.52] endarkumari: *بِسْـــــــــــــــمِ اللّٰهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيْمِ*
*اَلسَّلاَمُ عَلَيْكُمْ وَرَحْمَةُ اللّٰهِ وَبَرَكَاتُهُ*
۞اَللهُمَّ صَلِّ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ۞
ﺍﻟﻠَّﻬُﻢَّ ﺻَﻞِّ ﻋَﻠَﻰ ﺳَﻴِّﺪِﻧَﺎ ﻣُﺤَﻤَّﺪٍ ﻭَﻋَﻠَﻰ ﺁﻟِﻪِ ﻭَﺻَﺤْﺒِﻪِ ﻭَﺳﻠِّﻢ
TIGA NAFSU YANG MENGENDALIKAN HIDUPMU
Jarang sekali kita menyadari bahwa hidup ini sering diarahkan oleh tiga keadaan jiwa atau nafsu yang disebutkan dalam Al-Qur’an: nafsu ammārah, lawwāmah, dan muṭma’innah. Para ulama menjelaskan bahwa jiwa manusia dapat berubah-ubah sesuai dorongan yang ia ikuti.
Nafsu ammārah adalah jiwa yang selalu mengajak kepada keburukan. Allah ﷻ Ta'ala berfirman:
۞ وَمَآ اُبَرِّئُ نَفْسِيْۚ اِنَّ النَّفْسَ لَاَمَّارَةٌ ۢ بِالسُّوْۤءِ اِلَّا مَا رَحِمَ رَبِّيْۗ اِنَّ رَبِّيْ غَفُوْرٌ رَّحِيْمٌ
“Aku tidak (menyatakan) diriku bebas (dari kesalahan) karena sesungguhnya nafsu itu selalu mendorong kepada kejahatan, kecuali (nafsu) yang diberi rahmat oleh Tuhanku. Sesungguhnya Tuhanku Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.” (QS Yūsuf [12]: 53).
Nafsu lawwāmah adalah jiwa yang selalu menyesali dirinya sendiri ketika berbuat salah, dan Allah bersumpah atasnya dalam firman-Nya:
وَلَآ اُقْسِمُ بِالنَّفْسِ اللَّوَّامَةِ
“Aku bersumpah demi jiwa yang sangat menyesali (dirinya sendiri).” (QS Al-Qiyāmah [75]: 2)
Adapun nafsu muṭma’innah adalah jiwa yang tenang karena selalu kembali kepada Allah ﷻ, hal ini sebagaimana firman-Nya:
الَّذِيْنَ اٰمَنُوْا وَتَطْمَىِٕنُّ قُلُوْبُهُمْ بِذِكْرِ اللّٰهِ ۗ اَلَا بِذِكْرِ اللّٰهِ تَطْمَىِٕنُّ الْقُلُوْبُ ۗ
“(Yaitu) orang-orang yang beriman dan hati mereka menjadi tenteram dengan mengingat Allah. Ingatlah, bahwa hanya dengan mengingat Allah hati akan selalu tenteram.” (QS Ar-Ra‘d [13]: 28).
Inilah jiwa yang kelak dipanggil dengan lembut, sebagaimana disebutkan dalam firman Allah ﷻ:
يٰٓاَيَّتُهَا النَّفْسُ الْمُطْمَىِٕنَّةُۙ ارْجِعِيْٓ اِلٰى رَبِّكِ رَاضِيَةً مَّرْضِيَّةً ۚ
“Wahai jiwa yang tenang, kembalilah kepada Tuhanmu dengan ridha dan diridhai.” (QS Al-Fajr [89]: 27-28)
Maka marilah kita berusaha mengendalikan hawa nafsu, menundukkan jiwa kepada aturan Allah, dan memohon taufik-Nya agar kita digolongkan sebagai pemilik jiwa yang tenang. Āmīn.
۞اَللهُمَّ صَلِّ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ۞
ﺍﻟﻠَّﻬُﻢَّ ﺻَﻞِّ ﻋَﻠَﻰ ﺳَﻴِّﺪِﻧَﺎ ﻣُﺤَﻤَّﺪٍ ﻭَﻋَﻠَﻰ ﺁﻟِﻪِ ﻭَﺻَﺤْﺒِﻪِ ﻭَﺳﻠِّﻢ
[7/1 08.52] endarkumari: *✦•══✦°❖◎🔘◎❖°✦══•✦*
*﷽*
*TAFAKUR SETIAP SAAT*
Tafakur bisa dilakukan setiap saat. Setiap kali ada kesempatan.
Bahkan saat kerja dengan berbagai kesibukan. Karena ia akan melahirkan kekuatan iman, cinta,syukur, waspada dan takut kepada Allah.
> *Jumhur Ulama mengatakan :*
*"Tafakur itu ada lima macam, yakni:*
1. Tafakur tentang ayat-ayat Allah; buahnya adalah tauhid dan yakin kepada Allah.
2. Tafakur tentang nikmat-nikmat Allah; buahnya adalah rasa cinta dan syukur kepada Allah.
3. Tafakur tentang janji-janji Allah; buahnya adalah rasa cinta kepada kebahagiaan akhirat.
4. Tafakur tentang ancaman Allah; buahnya adalah kewaspadaan dalam menjauhkan maksiat dan mengagungkan Allah.
5. Tafakur tentang sejauh mana ketaatan kepada Allah dan kebaikan Allah kepada diri kita; buahnya adalah rasa takut kepada Allah”.
> *Nashaihul Ibad, Imam Nawawi Al-Bantani*
*والله اعلم بالصواب*
*`♡اللٌَــهـُـمٌَ صَـلِّ عَـلَـى سـَـيْـدِنَـا مـُـحَـمٌَــدٍ وَعَـلَى آلِــہِ وَصَـحْـبِــہِ وَبَـارِك وَسَـلِّـم♡*
*✦•══✦°❖◎
Komentar
Posting Komentar