Postinganku Hari Ini

 Inspirasi Pagi :


Jika ada yang membicarakan KEKURANGANMU tersenyumlah.


Kekuranganmu saja bisa membuat mereka perhatian apalagi KELEBIHANMU.


Tetang saja kawan hadapi dengan senyuman.


Tetap Semangat

---------

HJS




الْسَّــــــــــلاَمُ عَلَيْكـُم وَرَحْمَةُ اللَّـهِ وَبَرَكَاتُة


🖋️ *ANUGRAH TERINDAH DARI اَللّهُ, ADALAH NIKMATNYA IBADAH*



     *Ibadah* ```merupakan``` *tujuan utama penciptaan manusia.* ```Puncak dari segala urusan dan kepentingan di dunia fana ini. Meskipun disebut``` *taklif* ``` atau beban, namun di dalam``` *ibadah* ``` juga terdapat kenikmatan luar biasa.``` *Sebuah kenikmatan yang jauh melebihi segala bentuk kenikmatan yang ada di dunia.* *"Kenikmatan yang dirasakan ahlu tha’at (orang yang rajin melakukan ketaatan) jauh lebih lezat daripada kenikmatan yang dirasakan ahlu syahwat (budak syahwat) saat menuruti nafsu mereka"*


```Siapa yang mampu merasakan nikmatnya ibadah, berarti dia telah mendapatkan``` *anugerah terindah* ``` dari اَللّهُ. Ia telah meraih sebuah``` *maqam* (kedudukan) ```yang tinggi di antara manusia. Dari milyaran manusia, hanya sedikit yang mau beribadah, dari yang mau beribadah hanya sedikit yang beribadah dengan sungguh-sungguh, dan dari yang sudah bersungguh-sungguh, hanya sedikit yang benar-benar bisa merasakan nikmatnya pengabdian kepada اَللّهُ. Mereka adalah manusia-manusia yang istimewa. Ibadah bagi mereka bukan lagi beban tapi kesenangan, rehat dan aktivitas yang penuh kenikmatan.```

```cara meraih kenikmatan dalam``` *ibadah* ```yang disarankan. Yaitu,``` *kuatnya rasa ta’zhim* (pengagungan) ```kepada اَللّهُ```


*Semakin besar dan kuat pengagungan seorang hamba akan kebesaran dan kuasa Rabbnya, semakin mudah baginya merasakan nikmatnya mengabdi kepada Rabbul Izzati.* ```Sebuah pengagungan yang menjadikan اَللّهُ satu-satunya Dzat yang diharap, ditakuti, dicintai dan disegani atas segala kuasa dan kemuliaan-Nya. Sebuah pengagungan yang membuat segala hal selain اَللّهُ menjadi kecil nilainya dan benar-benar layak dikesampingkan; tidak begitu diharapkan, tak ditakuti dan dikhawatirkan dan tak layak mendapat cinta sedalam cinta kepada-Nya.```


*Kedua,* ```beribadah dengan``` *ikhlas* ```semata-mata karena mendamba ridha اَللّهُ```


*Ketiga,* ``` bersungguh-sungguh dan konsisten``` (mujahadah wa istiqamah) ```dalam beribadah, dengan meneladani tata cara ibadah``` Rasulullah ﷺ, ```dimulai dengan meluruskan dan memurnikan niat karena اَللّهُ, memenuhi``` *syarat, rukun, dan kaifiyat* ```-nya secara``` *tertib dan khusyuk*. ```Dengan konsistensi dan kekhusyukan, pelaksanaan ibadah bisa dirasakan``` *nikmat dan lezat.*


*Keempat,* ```menjadikan ibadah sebagai``` *kesenangan hati, bukan beban yang memberatkan,* ``` sehingga ibadah dijalani dengan penuh antusiasme, optimisme, dan asketisme```


*Kelima,* ```menjauhkan diri dari``` *maksiat dan perbuatan dosa, melalui habituasi akhlak mulia.* ```Nikmatnya beribadah makin bertambah seiring dengan aktualisasi akhlak mulia dalam kehidupan nyata karena akhlak mulia merupakan buah dari ibadah bermakna:``` *ibadah yang dirasakan sebagai kebutuhan dan kenikmatan.*


*Wallahu a’lam.*

[9/1 08.09] endarkumari: *RENUNGAN PAGI*


*السَّلاَمُ عَلَيْكُمْ وَرَحْمَةُ اللهِ وَبَرَكَاتُهُ*

*بِسْــــــــــــــــمِ اللّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِــــــــــــيْمِ.*


*KONSEKUSNSI MENGUCAPKAN LAA ILAAHA ILLALLAH* 


Maksud dari *Laa Ilaaha Illallah,* yaitu  mentauhidkan Allah Subhanahu wa Ta’ala dan mengesakanNya dalam perkara-perkara ibadah. Juga mengikhlaskan seluruh perbuatan hanya kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala.


Jika seorang yang mengatakan *Laa Ilaaha Illallah* dituntut untuk menging kari semua sembahan-sembahan yang disembah selain Allah Subhanahu wa Ta’ala. Sebagaimana telah kita sebut kan ayat-ayat yang sangat banyak yang menjelaskan tentang makna Laa Ilaaha Illallah. Diantaranya adalah Firman Allah:


*اعْبُدُوا اللَّـهَ مَا لَكُم مِّنْ إِلَـٰهٍ غَيْرُهُ*


*“Sembahlah Allah, kalian tidak mempunyai sesembahan kecuali Dia.”* 

QS. Al-A’raf ayat 59.


Juga firman Allah:


*وَاعْبُدُوا اللَّـهَ وَلَا تُشْرِكُوا بِهِ شَيْئًا*


*“Dan sembahlah Allah dan janganlah kalian mempersatukanNya dengan sesuatu apapun.”* 

QS. An-Nisa ayat 36.


Juga firman Allah:


*وَمَا أُمِرُوا إِلَّا لِيَعْبُدُوا اللَّـهَ مُخْلِصِينَ لَهُ الدِّينَ*


*“Dan mereka tidak diperintahkan kecuali agar mereka menyembah hanya kepada Allah dengan mengikhlaskan agama hanya kepadaNya.”* 

QS. Al-Bayyinah ayat 5.


Adapun perkataan *Syaikh bin Baz Rahimahullah*:


*المُنافي للجهل*


*“Yang bertentangan dengan kebodohan.”*


*SYARAT PERTAMA*


Yang dimaksud dengan ilmu di sini adalah ilmu yang benar, pemahaman yang lurus tentang makna kalimat Laa Ilaaha Illallah. Ia mengeluarkan dia dari jalannya orang-orang *bodoh*. Karena seorang yang mengatakan Laa Ilaaha Illallah tanpa mengetahui mak nanya, tanpa mengetahui maksudnya, maka perkataan tersebut tidak berman faat baginya.


Allah berfirman:


*فَاعْلَمْ أَنَّهُ لَا إِلَـٰهَ إِلَّا اللَّـهُ وَاسْتَغْفِرْ لِذَنبِكَ وَلِلْمُؤْمِنِينَ وَالْمُؤْمِنَاتِ*


*“Dan ketahuilah bahwasanya tidak ada Ilah yang berhak disembah selain Allah dan memohon ampun atas dosa-dosamu juga mohonkanlah ampuh untuk seluruh kaum Mukminin dan Mukminat”* 

QS. Muhammad ayat 19.


Dalam ayat ini Allah Subhanahu wa Ta’ala memulai dengan ilmu. Karena ilmu adalah pondasi dari syarat Laa Ilaaha Illallah. Kemudian juga Allah berfirman:


*إِلَّا مَن شَهِدَ بِالْحَقِّ وَهُمْ يَعْلَمُونَ*


*“Kecuali orang yang mempersaksikan dengan kebenaran dan mereka mengetahui.”* 

QS. Az-Zukhruf ayat 86.


Para ahli tafsir menafsirkan ayat ini, mereka mengatakan, *“kecuali orang yang menyaksikan bahwasanya tidak ada Ilah yang berhak disembah selain Allah dan mereka mengetahui arti dari apa yang mereka ucapkan dan mereka saksikan.”*


Juga dalam shahih Muslim dari Nabi kita ‘Alaihish Shalatu was Salam, beliau bersabda:


*مَنْ مَاتَ وَهُوَ يَعْلَمُ أَنَّهُ لَا إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ دَخَلَ الْجَنَّةَ*


*“Barangsiapa yang mati dan ia mengetahui bahwasanya tidak ada Ilah yang berhak disembah selain Allah, ia akan masuk surga.”* (HR. Muslim)


Dalam hadis ini Rasulullah mensyarat kan *ilmu*.


*SYARAT KEDUA*


Syarat yang kedua yaitu keyakinan yang menghilangkan segala keragu-raguan. Dan keyakinan adalah ilmu yang sempurna. Allah ta’ala berfirman:


*إِنَّمَا الْمُؤْمِنُونَ الَّذِينَ آمَنُوا بِاللَّـهِ وَرَسُولِهِ ثُمَّ لَمْ يَرْتَابُوا*


*“Sesungguhnya orang-orang yang benar-benar beriman yaitu mereka yang beriman kepada Allah dan RasulNya, kemudian mereka tidak ragu.”* 

QS. Al-Hujurat ayat 15.


Artinya *mereka yakin dan tidak ragu sama sekali*. Karena iman dan tauhid dituntut untuk seseorang meyakininya. *Dan ‘aqidah yang benar adalah ‘aqidah yang tertanam kuat dalam hati*. Adapun seseorang yang ragu-ragu, maka tidak akan diterima darinya ucapan Laa Ilaaha Illallah.


Dalam *Kitab shahih Muslim* dari hadits *Abu Hurairah Radhiyallahu ‘Anhu,* dari Nabi kita ‘Alaihish Shalatu was Salam, beliau bersabda:


*أَشْهَدُ أَنْ لَا إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ وَأَنِّي رَسُولُ اللَّهِ لَا يَلْقَى اللَّهَ بِهِمَا عَبْدٌ غَيْرَ شَاكٍّ فِيهِمَا إِلَّا دَخَلَ الْجَنَّةَ*


*“Aku bersaksi bahwa tidak ada Ilah (yang berhak disembah) selain Allah dan bahwa aku adalah utusan Allah, tidaklah seorang hamba bertemu Allah dengan berpegang teguh padanya tanpa ada keraguan niscaya dia masuk surga”* 

(HR. Muslim)


Dalam hadits ini Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam mensyaratkan keyakinan. Yaitu tidak adanya keraguan sama sekali. Dalam hadits yang lain, Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam bersabda:


*مَنْ لَقِيتَ مِنْ وَرَاءِ هَذَا الْحَائِطِ يَشْهَدُ أَنْ لَا إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ مُسْتَيْقِنًا بِهَا قَلْبُهُ فَبَشِّرْهُ بِالْجَنَّةِ*


*“Siapa yang engkau temui di belakang tembok ini dan ia menyaksikan bahwasanya tidak ada Ilah yang berhak disembah kecuali Allah, dan ia yakin dalam hatinya. Maka berilah kabar gembira dengannya surga.”* 

(HR. Muslim)


Maka seorang yang mengucapkan Laa Ilaaha Illallah harus muncul dari hatinya yang penuh dengan keyakinan dan tidak ada keraguan sama sekali. Dan apabila ada keraguan sedikitpun maka tidak akan diterima ucapan tersebut walaupun ia mengulanginya berkali-kali.


*SYARAT KETIGA*


Syarat yang ketiga dari syarat-syarat Laa Ilaaha Illallah adalah ikhlas ketika mengucapkannya. Keikhlasan tersebut mengangkat dan menghilangkan kesyirikan dan riya’. Sebagaimana firman Allah Tabaraka wa Ta’ala:


*وَمَا أُمِرُوا إِلَّا لِيَعْبُدُوا اللَّـهَ مُخْلِصِينَ لَهُ الدِّينَ*


*“Dan tidaklah mereka diperintahkan kecuali agar mereka beribadah kepada Allah dengan mengikhlaskan agama hanya kepadaNya.”* 

QS. Al-Bayyinah ayat 5.


Juga firman Allah ‘Azza wa Jalla:


*أَلَا لِلَّـهِ الدِّينُ الْخَالِصُ*


*“Dan ketahuilah hanya milik Allah agama yang murni.”* 

QS. Az-Zumar ayat 3.


Juga dalam hadits yang shahih dari Nabi kita Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam beliau bersabda:


*أَسْعَدُ النَّاسِ بِشَفَاعَتِي يَوْمَ القِيَامَةِ مَنْ قَالَ: لَا إِلَهَ إِلَّا اللهُ، خَالِصًا مِنْ قِبَلِ نَفْسِهِ*


*“Manusia yang paling berbahagia dengan syafaatku pada hari kiamat yaitu yang mengucapkan Laa Ilaaha Illallah ikhlas dari hatinya.”* 

(HR. Bukhari).


Dalam hadits ini Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam mensyaratkan keikhlasan. Yaitu keikhlasan yang muncul dari hati yang ikhlas kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala. Ia tidak menginginkan dengan kalimat ini kecuali Allah Subhanahu wa Ta’ala. Sesungguhnya milik Allah agama yang murni.


Dan kata *“الْخَالِصُ”* adalah yang murni, yang bersih, yang tidak ada sedikitpun campuran *kesyirikan atau keriya’an.* Dan untuk mengetahui makna ikhlas, perhatikan firman Allah Tabaraka wa Ta’ala:


*وَإِنَّ لَكُمْ فِي الْأَنْعَامِ لَعِبْرَةً ۖ نُّسْقِيكُم مِّمَّا فِي بُطُونِهِ مِن بَيْنِ فَرْثٍ وَدَمٍ لَّبَنًا خَالِصًا سَائِغًا لِّلشَّارِبِينَ*


*“Dan sesungguhnya pada binatang ternak itu benar-benar terdapat pelajaran bagi kamu. Kami memberimu minum dari pada apa yang berada dalam perutnya (berupa) susu yang bersih antara tahi dan darah, yang mudah ditelan bagi orang-orang yang meminumnya.”* QS. An-Nahl ayat 66.


Kata *الْخَالِصُ* dalam ayat ini adalah yang murni, yang bersih, tidak ada campuran darah juga tidak ada campuran kotoran. Padahal susu tersebut keluar dari antara kotoran dan darah. Akan tetapi susu tersebut keluar dalam keadaan murni dan sangat bersih.


Begitu pula ikhlas dalam beribadah kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala, harus murni, harus bersih, tidak ada sedikitpun keinginan kecuali Allah Subhanahu wa Ta’ala. Maka barangsiapa yang menyekutukan Allah Subhanahu wa Ta’ala dalam ibadahnya, maka ia telah keluar dari kesucian dan kemurnian. Dan ibadah tersebut akan ditolak oleh Allah Subhanahu wa Ta’ala.


Dalam *Hadits Qudsi,* Allah ‘Azza wa Jalla mengatakan:


*أَنَا أَغْنَى الشُّرَكَاءِ عَنِ الشِّرْكِ مَنْ عَمِلَ عَمَلاً أَشْرَكَ فِيهِ مَعِى غَيْرِى تَرَكْتُهُ وَشِرْكَهُ*


*“Aku adalah Dzat yang paling tidak butuh dengan sekutu. Barangsiapa yang melakukan suatu amalan yang ia mempersekutukan Aku dengan selainKu, maka Aku meninggalkannya dan sekutunya.”* (HR. Muslim)


Dan keikhlasan ini tempatnya dan sumbernya adalah hati. Oleh karena itu penulis kitab ini Rahimahullah mengatakan:


*خالصًا من قلبه*


*“Murni dari hatinya”*


Semoga Allah swt selalu memberikan kita ilmu yang bermanfaat. Aamiin.


Wallahu a'lam bish-shawaab,

Barakallah fiikum.



Wassalamualaikum warahmatullahi wabarahkaatuh.

[9/1 08.11] endarkumari: *❃☘️⃝⃝⃝⃝⃝⃝⃝🌼࿐❀🟤❀࿐❃☘️⃝⃝⃝⃝⃝⃝⃝🌼*


*بِسْــــــــــــــــــمِ اللهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيْمِ*

*السَّلاَمُ عَلَيْكُمْ وَرَحْمَةُ اللهِ وَبَرَكَاتُهُ*

*اَللَّهُمَّ صَلِّ عَلٰى سَيِّدِنَامُحَمَّدٍ وَعَلٰى اٰلِ سَيِّدِنَامُحَمَّدٍ ﷺ*


*Menjaga hati sama pentingnya dengan menjaga lisan. Sebab, jika seseorang hatinya baik, maka akan keluar dari lisannya perkataan yang baik. Lisan mencerminkan kebersihan hati seseorang." - Habib Ali Zaenal Abidin Bin Abdurrahman Al-Jufri*


*"Berusaha menjaga mulut dan jari ini agar tidak sampai menyakiti hati orang lain karena rasa sakit yang berasal dari mulut belum tentu bisa sembuh, meski dengan kata maaf." -* 


*"Karena mulut, badan binasa. Karena lidah, tanpa kita sadar boleh menyakiti hati seseorang,apalagi dilakukan secara sengaja*


*"Tidak pandai menjaga lisan adalah bukti tidak pandai menjaga hati. Jaga hatimu, maka lisan juga ragamu akan terjaga."*


*"Sebaik-baik manusianya adalah mereka yang menjaga lisannya karena lisan dapat membuat orang bisa tersinggung."*


*Hanya kemarahan yang bisa membuat mulut seseorang bertindak lebih cepat dari pikirannya."*


*"Jika kamu salah bicara, akui kesalahan dan ucapkan kata maaf. Jika kamu benar dengarkan, tutup mulut rapat-rapat dan maafkan."*


*"Hati-hatilah, mulut adalah harta karun yang luar biasa, namun juga penyakit menular yang sulit disembuhkan bila tak dijaga."*


*"Jaga mulut itu bagaikan menjaga mutiara."*


*Hidup akan tenang jikalau hati bersih jauh dari kejahilan,hidup jangan suka Mencari penyakit jangan suka memancing dan menyinggung orang lain.jikalau ingin diperlakukan hal yg sama,percuma sholat tahajjud,puasa dan amal-amal lainnya dikerjakan jikalau hati masih kotor*


*"Keselamatan manusia tergantung pada kemampuannya menjaga lisan." - (HR.Bukhori)*



*۞اَللهُمَّ صَلِّ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ﷽۞📿*



🍃♥️🌹📚📚

[9/1 08.11] endarkumari: 𝗛𝗶𝗸𝗺𝗮𝗵 𝗣𝗮𝗴𝗶


Qiyamullail mengangkat derajat orang yang hina dan memuliakan orang yang rendah. Puasa di siang hari memutus seseorang dari belenggu hawa nafsu. Dan bagi seorang mukmin, tidak ada tempat beristirahat sejati sebelum sampai ke surga [Wahb bin Munabbih rahimahullah]


=============

قِيَامُ اللَّيْلِ يَشْرُفُ بِهِ الْوَضِيعُ وَيَعِزُّ بِهِ الذَّلِيلُ، وَصِيَامُ النَّهَارِ يَقْطَعُ عَنْ صَاحِبِهِ الشَّهَوَاتِ وَلَيْسَ لِلْمُؤْمِنِينَ رَاحَةٌ دُونَ دُخُولِ الْجَنَّةِ (مختصر قيام الليل وقيام رمضان وكتاب الوتر للمروزي ٦٢)

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Kisah Sahabat Nabi SAW

Renungan bakda ashar